ruang cerita, ruang semua

Memulai (Lagi)

Aku senang sekali. Hari ini ibuku akan membelikan sepeda ontel untukku. Sepeda pertama yang telah lama kuminta dan kuimpikan sejak melihat teman-temanku menuntun sepeda di jalanan depan rumah. Sejak itu, aku setiap hari merengek-rengek pada bapak untuk dibelikan sepeda. Kemudian hari inipun terjanji. Senyumku merekah dan kemudian berlari keteman-teman bercerita kalau aku akan punya sepeda seperti mereka.

***

Dari balik rimbunnya bambu sekeliling rumah, tubuh kumalku berdiri memelototi jalanan di selatan rumahku. Setiap jengkal jalanan tanah itu kutatap dengan jeli tetapi masih belum kutemukan yang kucari. Sejak beliau pamitan berangkat aku sudah menunggu ibuku yang ke pasar dan berjanji pulang dengan membawa ontel baru untukku.

Mataku memelototi dengan tajam dua orang yang berjalan dari kejauhan. Salah satunya darinya –yang lebih pendek- terlihat memangkul sesuatu. Semakin dekat aku mengenali bahwa itu ibu dan paklekku. Aku langsung meloncat dari atas pangkal bambu yang jadi pijakanku berdiri dan berlari dengan kegembiraan yang bertebaran di hati. Ibu dan paklekku hanya tersenyum melihat aku berlari tergopoh-gopoh dengan nafas tak beraturan.

Hari-hari setelah hari itu adalah waktu yang menyenangkan sekaligus berat bagiku. Aku belajar keras mengendarai sepeda agar bisa secepat mungkin bisa bermain sepeda bersama teman-temanku. Berkali-kali jatuh dari sepeda pada gayuhan pedal pertama menjadi hal yang biasa kurasakan bersama gerimis dan halaman rumah yang berlumpur. Hasilnya memar dan lecet di kaki dan tangan yang tak sedikit. Asyiknya, setiap kali aku jatuh dari sepeda setiap kali itu pula aku tertawa. Mungkin menertawakan ketidakmampuanku dengan luapan kegembiraan yang konyol.

Selang beberapa minggu kemudian ketika musim mulai berganti saat itulah aku walaupun masih goyang-goyang tidak stabil sudah mampu duduk di atas dua roda berputar itu tanpa bantuan dua roda kecil tambahan. Rasanya luar biasa. Kegembiraanku memuncak.

***

15 tahun kemudian saat hujan sore bulan desember baru saja reda. Entah mengapa aku teringat kejadian masa kecil itu. Mungkin gegara hujan ini, atau mungkin hatiku sedang rindu masa anak-anak dulu. Aku mengingat-ingat ketika dulu akau belajar bersepeda. Beberapa minggu baru bisa menaiki sepeda dengan geyal-geyol belum seimbang. Hebatnya adalah aku melakukanya dengan hati bahagia dan wajah yang penuh tawa gembira.

Tiba-tiba aku membandingkan proses belajar sepeda dulu dengan keinginanku belajar menulis. Niatku belajar menulis sudah kupupuk sejak semester ke-2 kuliah, sampai sekarang semester ke-5 hanya beberapa tulisan yang selesai aku tulis. Jumlahnya tidak lebih banyak dari hitungan adik-adik playgroup yang baru belajar menghitung dengan jari-jari kedua tangannya.

Aku tidak tahu setan apa yang membelengguku. Ketika ada waktu longgar aku selalu saja menunda-nunda untuk mulai menulis. “ah sekarang nyantai dulu, menulisnya besok-besok saja”. Begitu pikiranku menggodaku. Dan hampir setiap kali ia datang dengan mantra itu, aku selalu mematuhinya. Aku tak mampu lepas.

Atau sebenarnya aku hanya mencari-cari alasan dan menyalahkan setan yang kuimajinasikan ada. Mungkin yang lebih berat dan sering menghantuiku adalah ketakutanku sendiri. Ketakutan yang kupelihara dan datang dari segara arah masuk ke setiap sel pikiran dalam otakku dan membuatku seperti patung yang tak mampu bergerak. Diam dalam ketakutan. Ketakutan yang datang itu seperti pisau dengan berbagai macam bentuk. Tetapi mereka semua sama. Menusuk dengan tajam.

Sesaat sebelum mulai menulis aku selalu ketakutan. Aku takut tulisanku amburadul dan menjadi bahan tertawaan. Aku takut ejaan yang kugunakan salah, bahasaku buruk, pesan yang ingin kusampaikan bias dan ribuan hantu-hantu lain. Hasratku juga lebih menakutkan. Ia selalu memaksaku untuk menulis dengan sempurna. Hasrat ini telah mengadili tulisanku bahkan sebelum kata pertama tertuang.

Ketakutan membuatku diam tanpa daya.

Aku tidak menyerah. Berbagai cara kulakukan mulai dari mempelajari tips-tips menulis, meminta saran senior yang lebih pandai dan puluhan cara lain yang kulakukan sebelum akhirnya aku benar-benar pasrah dengan ketakutan.

Di tengah kekalahanku dengan ketakutan menulis. Aku berdiskusi dengan diri sendiri. Kenapa aku kalah dengan ketakutan. Tidak mampu mengatasi masalah yang ada pada diriku sendiri. Apakah jawaban yang selama ini kudapatkan bukan jawaban dari persoalan sebenarnya. Maka lebih dalam aku berkontemplasi. Lebih dalam menyelami apa yang salah dari diriku sehingga aku begitu takut untuk mulai menulis.

Dua bulan terakir ini aku mulai menemukan sebagian dari jawaban. Pamer, ingin dinilai wah dan bahkan menyombongkan diri adalah tembok yang selama ini mungkin menghalangiku untuk mulai menulis. Nafsu inilah yang memaksaku menulis untuk gaya-gaya-an. Menulis dengan niat menyombongkan diri keorang lain.

Aku menemukannya setelah banyak melalui malam dengan duduk menyendiri di kamar kos. Bukan ketidakmampuanku menulis dengan baik yang membuatku tidak menulis. Niat sombongku yang tidak benar yang menghalangiku.

Sekarang aku mulai belajar menulis (lagi). Setelah sekian lama aku diam tanpa usaha dan tak tahu yang terjadi pada diriku. Aku tidak lagi takut salah dalam menulis karena aku tidak lagi menginginkan kesempurnaan dalam tulisanku. Sudah kubuang jauh nafsu itu. Aku tidak takut menulis karena aku hanya ingin berbagi kepada sesama tentang sekitar, tentang sesuatu di dalam diri atau sesuatu yang lain di dalam hati ini.

Tentang tulisanku ini. Aku hanya ingin berbagi dan beberapa hal lain yang tidak sulit untuk dilakukan –Biarlah sesuatu yang sulit dikerjakan oleh orang-orang yang sulit. Aku ingin memulai sesuatu yang sederhana dengan cara yang sederhana pula seperti berjalan di pematang sawah setelah panen selesai.

Aku tahu, jalan menulis ini bukan sesuatu yang bisa kupelajari beberapa minggu seperti belajar bersepeda dulu. Ini adalah proses panjang sejauh usia yang ibarat mampir minum. Dan tidak seperti selesai belajar bersepeda yang kurayakan penuh kegembiraan. Menulis adalah belajar tentang diri sendiri yang mungkin bisa kurayakan dengan segelas kesunyian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s