ruang cerita, ruang semua

Dari Mandangin untuk ABDI Airlangga

Tim ABDI Airlangga bersama tokoh Masyarakat Pulau Mandangin.
Tim ABDI Airlangga bersama tokoh Masyarakat Pulau Mandangin

Saya mendengar adzan magrib diantara suara riak ombak laut yang kencang menerpa bahu kapal yang kami tumpangi. Lebih dari satu jam kapal terombang-ambing di muara sungai pelabuhan tanglok. Kapal yang kandas karena air laut yang surut terpaksa dihentikan oleh awak. Jadilah kami harus menunggu pasang air laut agar kapal dapat di jalankan kembali.

Sekitar pukul 8 malam kami baru tiba di rumah yang akan kami tinggali selama KKN-BBM di Pulau Mandangin ini. Makan, membersihkan diri dan kemudian kami istirahat setelah menata barang-barang kami untuk mulai melaksanakan program pada esok hari.

Di antara program yang kami jalankan adalah program kebersihan lingkungan. Mengajak adik adik Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah untuk membuang sampah pada tempatnya dan buang air besar di WC. Dan ternyata bukan hal yang mudah. Kesehariaan mereka yang terbiasa membuang sampah disembarang tempat berusaha kami reduksi dengan ajakan dan sarana kebersihan tempat sampah. Walaupun kami melihat ini akan membutuhkan waktu yang lama kami tetap optimis dalam menjalankan program.

Selain program lingkungan, hal yang menjadi perhatian kami selama survei beberapa kali sebelum pelaksanaan KKN-BBM terkait dengan kesehatan warga dan pemahaman untuk hidup sehat. Pulau Mandangin sempat terkenal dengan penyakit TBC. Maka dalam program kami sepakati untuk memberikan penyuluhan dan pengobatan gratis untuk warga penderita penyakit TBC. Dan kami bersyukur, Puskesmas pembantu di desa Pulau Mandangin banyak membantu kami dalam hal data penderita TBC.

Dan masih banyak program yang kami lakukan selama satu bulan KKN di Pulau Mandangin, Madura.

Kami bangga dengan yang kami lakukan. Untuk beberapa alasan kami mempercayai bahwa kami luar biasa dalam menjalankan KKN-BBM yang kami (sendiri) menamai ABDI Airlangga.

Kebanggaan itu adalah bahwa kami melaksanakan KKN di tempat yang bukan biasa, disebuah pulau terpencil dengan penduduk 25.000 jiwa yang tentu bukan hal yang mudah untuk melakukanya. Selain itu kami bangga dengan program-program yang kami lakukan (kami klaim) berhasil dengan indikator yang sudah kami tentukan sebelumnya. Dan tentunya kami juga bangga karena proses untuk sampai KKN di Pulau Mandangin juga bukan proses yang mudah dan singkat. Kami sudah mengawalinya satu semester sebelum waktu pelaksanaan. Mulai dari rekruitmen anggota, merumuskan program, mencari dana dan berbagai hal lain.

Dan ternyata kami salah.

Kami sadar tidak memberikan apapun untuk masyarakat di Pulau Mandangin  ini. Yang kami lakukan bukanlah apa-apa. Bukanlah sesuatu yang luar biasa. Apa yang kami lakukan adalah bagian dari tanggung jawab kami sebagai mahasiswa untuk masyarakat. Sebuah upaya kecil kami untuk berkontribusi sesuai dengan yang kami mampu. Dan tentu bukan hal yang luar biasa.

Selain itu, kami tersadar bahwa kami yang lebih banyak belajar kepada masyarakat di Mandangin. Kami belajar kepada Bu Masudah, seorang yang sangat tulus tanpa pamrih dalam membantu orang lain. Beliau luar biasa. Membantu keperluan kami sehari-hari selama KKN tanpa meminta imbalan apapun. Dan bahkan menolak biaya ganti yang kami berikan. Suatu hari beliau berkata “selama kalian disini adalah kewajiban saya untuk membantu dengan apa yang saya bisa”. Teman ABDI saya sampai menitikkan air mata demi mendengar prinsip beliau.

Kami belajar keikhlasan kepada Kyai Gufron, yang mengajar ngaji ratusan santri tanpa berharap imbalan dari mereka. yang selalu mendoakan kami. Dan mengenalkan kami kepada kondisi sosial budaya masyarakat Pulau Mandangin.

Kami belajar kesabaran dari seorang bapak nelayan di mandangin, yang selalu bersyukur dan sabar dalam melaut dengan hasil yang tidak pasti. Kesabaran beliau ajarkan kepada kami yang selalu tergesa dalam keingginan.

Kami belajar gotong-royong sesuatu yang mungkin mulai jarang kita dengar apalagi kita rasakan. Ketika seorang nelayan selesai membuat kapal. Untuk membawa kapal dari tempat pembuatan sampai ke laut warga desa akan bergotong royong saling membantu dan melakukan selamatan. Sesuatu yang indah akan kita lihat.

Untuk hal-hal yang tidak dapat kami pelajari di kampus dan untuk semua pelajaran dan pengalaman dari pulau kecil ini kami sangat berterimakasih. Setelah satu tahun selesai KKN kami masih merasakan dan bahkan menemukan kembali pesan-pesan tersirat dari warga dan pulau mandangin.

Mandangin telah memberikan kami hal yang jauh lebih berharga dari apa yang kami lakukan selama disana.

Notes:
Hari ini Satu Tahun ABDI Airlangga telah berdiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s