ruang gagas, ruang semua

Hasta Brata : Seni memimpin a la Jawa (1)

Begawan Kesawidi memberi Wejangan.
Begawan Kesawidi memberi Wejangan

Laku yang ia jalankan tidak mudah, ada puluhan tantangan dan cobaan yang mesti dilakoni sebelum akhirnya ia selamat dari tirakatan yang penuh ujian. Ia sengaja menyendiri keluar sementara dari gemerlap kekuasaan di istananya untuk menguji diri, mengendalikan hawa nafsu demi cita-citanya yang agung. Ia bertekad memperjuangkan masyarakat karena ia percaya darmaning satriya mahani rahayuning nagara.

Pengembaraan spiritualnya panjang dan melelahkan, hingga suatu ketika dalam semadi yang kyusuk ia mendapat pesan suci untuk menemui Begawan Kesawidi. Seorang tokoh pertapa yang menguasai aji untuk kuat memimpin negeri.

Kedatangannya membawa keyakinan pada Begawan Kesawidi bahwa ialah orang yang tepat dan kuat untuk diwarisi ilmu yang luhur ini. Sebelum menerima wahyu agung itu ia berpuasa dan membersihkan diri, menguatkan tekad dalam berjuang.

Wahyu ini bukan sembarang wahyu, barangsiapa memilikinya ia akan menjadi sakti dan kelak akan menurunkan raja-raja yang memimpin marcapada. Oleh sebab itu, begawan Kesawidi sangat berhati-hati sebelum mewedarkan wahyu ini. ia memilih hanya orang yang bertekad dan mampu menjaga amanah besar itu, dan arjuna dirasa paling mumpuni untuk mengamalkan ajaran agung itu. Wahyu Makutharama.

***

Yasadipura I (1729-1803 M) seorang pujangga keraton Kasunanan Surakarta dalam buku karyanya  yang berjudul Ramayana menjelaskan hakikat wahyu Makutharama. Ialah delapan prinsip kepemimpinan yang wajib dipegang teguh oleh seorang lurah dalam mengemban amanah memimpin.

Delapan prinsip kepemimpinan atau yang lebih dikenal dengan Hasta Brata menekankan pentingnya seorang manusia untuk selaras dengan alam semesta. Manusia dan alam semesta sebagai sesama ciptaan gusti ingkang murbeng dumadi harus diselaraskan supaya terjaga keharmonisan dan manjadikan selamat dari malapetaka.

Hasta Brata adalah prinsip kepemimpinan yang meniru sifat alam. Sudah selayaknya kita kaum muda mempelajari dan meneladani prinsip luhur itu dengan kebesaran jiwa dan rasa tanggungjawab sebagai bagian dari sejarah bangsa masa depan.

Mahambeg Mring Suryo

Matahari memancarkan energi kehidupan untuk makluk hidup. Sama dengan pemimpin yang berhasta brata. Ia memekarkan bunga kehidupan (semangat hidup) rakyat yang dipimpinnya. Selalu rereh ririh ing pangarah. Ia bagai sumber semangat dan sumber kekuatan bagi arah tujuan masyarakat.

Mahambeg Mring Krisno

Bumi menjadi sumber kebutuhan hidup. Pemimpin yang menguasai sifat bhumi ia akan werdine ila legawa ing driya. Senantiasa melayani dengan hati dan pikiran yang iklas. Semuanya amal baktinya untuk rakyat yang ia pimpin. Ia tentu jauh dari sifat korupsi yang mewabah di pemerintahan kita sekarang.

Mahambeg Mring Condro

Bulan menerangi gelap malam dengan cahaya yang sejuk. Itulah pemimpin. Di manapun ia berada ia selalu membawa harapan untuk setiap cobaan dan ujian. Membawa kedamaian dikala konflik. Perannya sebagai pemimpin dirasakan oleh masyarakat dengan ketentraman dan kenyamanan. Ia memiliki prabawa sreping bawana.

Mahambeg Mring Warih

Air dalam semua wadah ia akan bisa masuk. Begitu juga dengan pemimpin yang mbanyuni ia akan diterima dan masuk kesemua lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Ia membaur dan menerima semua aspirasi masyarakat. Kebeningan hatinya membuat masyarakat nyaman dengan kepemimpinan yang diamanahkan padanya.

Mahambeg Mring Samirono

Udara ada dimana saja dan mampu kemana saja. Teliti setiti ngati-ngati itulah yang dilakukan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan dan dalam setiap tindakannya. Ia menyadari bahwa kecermatan sangat penting dalam menjaga dan memimpin bangsa. Ngati-ngati akan menyelamatkan diri dari malapetaka yang tidak perlu akibat kecerobohan. Setiap tindakan adalah terukur dan berdasarkan pertimbangan yang kuat.

Mahambeg Mring Dahono

Api membakar apa saja. Keadilan dalam memimpin menjadi ciri utama pemimpin yang memahami hasta brata dengan hati. Ia bersikap adil, tidak membeda-bedakan rakyat dalam ambrastha sagung dur angkara. Ia melakukanya demi tegaknya hukum negara yang dipimpinnya.

Mahambeg Mring Samodra

Samudra luas tak bertepi. Ia adalah pemimpin yang berpandangan luas dan sanggup mengelola beraneka persoalan yang dihadapi. Kelapangan dada yang luar biasa akan mengantarkanya pada penerimaan oleh masyarakat dan kuatnya kasih sayang pada sesama. Ia berjiwa besar dalam menerima ujian dari masyarakat.

Mahambeg Mring Wukir

Gunung berpijak dengan kokoh dan teguh. Tidak ada keraguan pada pemimpin yang mahambeg mring wukir. Ia selalu percaya pada keyakinan dan tujuannya. Keteguhan hati ini yang membuat masyarakat yakin akan kesungguhan pemimpin dalam bekerja.

Hasta brata ini yang kemudian dijadikan prinsip kepemimpinan oleh raja-raja jawa. Meneladani lelaku luhur pada pendahulu dalam mengemban amanah rakyat. Delapan lelaku ini seyogyanya tidak hanya dipahami oleh para pemimpin negara. Semua manusia sebagai kalifaitullah yang ditugasi mengelola alam bhumi oleh Gusti Allah sudah seharusnya menyadari dan belajar kembali kepada alam. Mengharmonisasikan diri.  

***

Kepercayaan dirinya meningkat. Ia merasa memancarkan cahaya kuat yang menyinar dari tubuh dan hatinya. Perasaanya sangat tenang dan bersemangat tetapi tetap tenang dan datar. Perlahan ia membuka mata dari semadinya pelan-pelan. “Gusti”… ia kaget dan setengah tak percaya. Ia tak pernah mengalami ini sebelumnya. Ia terheran-heran dan mencoba bertanya.

Begawan Kesawidi menyentuh pundaknya pelan, “iya, dunia ini indah dan penuh dengan kebahagiaan, persis seperti yang kau lihat. Hanya dirimu selama ini masih belum mampu merasakannya”

Ia bagaikan masih dalam mimpi. Mimpi yang nyata.

“kau tak usah heran, Gusti berkuasa atas segala sesuatu” Begawan Kesawidi bertutur lagi.

Ia sedikit tenang. dan mulai ikut mendengarkan pembicaraan ulat bayam disampingnya.

Advertisements

2 thoughts on “Hasta Brata : Seni memimpin a la Jawa (1)”

  1. Tulisan yang menarik, di jaman sekarang ini sangat jarang pemuda yang tahu akan kearifan budaya dari sejarah masa lalu (termasuk saya ini ^_^)
    Padahal bangsa yang besar adalah bangsa yang bercermin dari sejarah masa lalunya. Semua nilai-nilai yang terkandung seakan terkikis oleh modernitas semu yang hanya menyisakan manusia-manusia egosentris dan materialistis yang hanya memikirkan dirinya sendiri tanpa memperdulikan sekitarnya.
    Ditunggu tulisan lain bertema serupa…..
    Semangat berkarya ^_^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s