ruang cerita, ruang semua

Reni

kerjabakti, sumber : dok pribadi
kerjabakti, sumber : dok pribadi

Ia berusaha tetap berkonsentrasi dengan pelajaran matematikanya ketika beberapa anak dari kelas tiga dan empat masuk ke kelasnya membuat gaduh dengan mainan bola kertasnya. Ia seakan tidak peduli dengan teriakan dan tawa lepas yang memekakkan telinga dari sepakbola kertas dalam kelasnya. Sembari menulis angka-angka sesekali ia melihat kearahku, menatap wajahku dan seketika itu pula ia kembali menulis angka-angka di buku lusuhnya. Cara halus dengan mengajak main bola di luar kelas sampai pada “pengusiran” dari kelas sudah aku lakukan tetapi anak-anak dari kelas tiga dan empat yang jumlahnya tidak lebih dari hitungan jari tangan itu malah lebih “brutal” lagi. Hanya dia yang tetap fokus di mata pelajarannya sementara tawa dan teriakan menganggunya.

Selang berapa menit kemudian bel istirahat berbunyi. Seolah dengan komando anak-anak keluar dari kelas dan berhamburan ke toko di samping sekolah. Aku hanya melihat dia yang masih duduk di bangku sibuk dengan angka-angkanya.

“Adik masih belum selesai?” tanyaku mendekat ke sampingnya

“Belum mas masih kurang”  singkat ia menjawab

“Gak apa dilanjutin nanti aja, kamu istirahat dulu itu teman-temanmu sudah jajan” pintaku sambil melihat pekerjaannya

“iya mas nanti saja” Ia menolak dengan senyuman kepadaku

Dari bangku di sampingnya aku melihat keluar. Anak-anak kelas tiga dan empat yang membuat gaduh itu sedang asyik bermain bola di lapangan depan sekolah. Kali ini dengan bola plastik warna biru yang terlihat lama dan usang. Sinar mentari jam sepuluh pagi tak mampu membuat berhenti bermain. Terlihat anak-anak itu semakin semangat mengiring dan menendang bola itu. Saking semangatnya seragam sekolahnya dilepas dan diletakkan di lantai.

“Sudah selesai mas” katanya memberitahuku

“Oke, kita keluar” pintaku

“Iya mas aku mau beli es” senyumnya mengembang

“Gak mau beliin kakak?” pintaku menggodanya

“Mau es apa mas”? tanyanya dengan serius

“Engak ren aku udah ada minum kok” jawabku

“Beneran mas?” tanyanya menyakinkanku

“Iya dik, aku udah ada minum” jawabku serius sambil senyum

“Yauda mas aku beli es dulu” jawabnya kemudian berjalan keluar kelas

Aku melihatnya dari belakang. Ia berjalan tenang melewati anak yang bermain bola dan terlihat berlari kecil untuk menghindari bola yang berkelibat di dekatnya. Aku mengawasinya sampai ia tak terlihat di balik toko kelontong.

Sejak pertama kali kami datang ke desa ini untuk mengajar. Aku melihat ia berbeda dari teman-temannya yang lain. Ia tidak begitu banyak bermain, paling aktif ketika di kelas dan agak pemalu. Senyumnya tidak berlebih. Wajahnya sendu. Sering ia menunjukkan senyum yang aku tak memahaminya.

“Mas ayo bal-balan” Adit memintaku

Aku mengiyakan, melepas jas almater yang masih aku pakai dan langsung berlari ketengah lapangan sekolah.

“Aku tim mana?” tanyaku

“Sama aku kak” jawabnya

Cukup lama aku bermain bola dengan anak-anak itu. Sampai terdengar bel dan baru kami selesai bermain dan kembali ke kelas. Kondisi kelaspun tak kondusif karena kami kepanasan dan baju penuh keringat. Kelas menjadi gaduh kembali, anak-anak yang selesai bermain bola kipas-kipas kepanasan.

Siang ini aku kembali mengajar di kelas lima. Belajar membatik –lebih tepatnya belajar mengambar motif batik di buku gambar A3 bersama dengan Reni dan kawan-kawannya. Anak-anak menyiapkan alat tulis spidol warna, buku gambar dan pensil sementara aku menunjukkan motif-motif batik yang bisa ditiru.

Mengambar motif batik sangat membutuhkan ketelitian dan aku melihat itu ada di anak-anak kelas ini. Mereka teliti dan telaten dalam mengambar. Hasilnya menarik. Beberapa hasil gambaran motifnya mereka improvisasi sendiri dengan detail-detail baru. Walaupun tidak begitu pas combine aku dapat merasakan kreatifitas yang mereka tunjukkan di motif batik gambaran mereka.

***

“Dik reni mau langsung pulang?” tanyaku padanya

“Iya kak. Ada apa?” tanyanya balik

“Kamu suka mengambar?” tanyaku

“Suka kak. Kenapa?” ia menjawab dan melihatku

“Gambaran motifmu tadi bagus. Kamu teliti juga ya” kataku

“Aku senang kak bisa mengambar batik” Jawabnya

“Kenapa suka?” tanyaku selidik

“Melatih kesabaran mas” Jawabnya

Aku sedikit terkejut mendengar jawabannya.

Aku melihatnya berjalan dan kemudian berlari menyusul teman-temannya yang berada jauh di depan. Tak kusangka ia menoleh lagi dari kejauhan. Melambaikan tangan pada kami para pengajar dan tersenyum seperti biasanya.

Ia mempunyai cerita sendiri dalam hidupnya yang membentuknya untuk bersikap sabar dan jarang bicara. Ketulusannya dalam belajar selama kami mengajar di sekolahnya adalah bukti dari dirinya yang serius ingin mencapai cita-citanya. Saya yakin Keterbatasan akses pendidikan dan financial tak akan mampu membendungnya meraih harapan-harapannya. Sebuah harapan yang bagi sebagian dari kita dengan mudah kita peroleh dari pemberian orang tua. Cita-cita dan harapan adalah bentuk penghargaan Tuhan kepada manusia sedangkan manusia menghargai manusia lain dengan menghargai keragaman cerita yang ada pada setiap diri masing-masing. Bukankah hanya dengan banyak warna kita bisa menikmati indahnya pelangi?

– surabaya, september 2016

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s