ruang cerita, ruang semua

Krisan

bunga Krisan
bunga Krisan

Bagaimana jika ketika aku kau bangun pada pagi hari dan kau segera menyadari bahwa matahari tak akan pernah terbit lagi sampai sisa usiamu. Katakanlah matahari sudah lelah dan ia dengan sedih memutuskan untuk berpindah dari tata surya kita. Semakin bergerak menjauh dari dirimu dan kemarin sore ketika kau menikmati buku kecilmu diteras rumah adalah terakir kali kau bertemu dengannya. Sudah tak ada matahari lagi. Ia melangkah pergi. Iya mungkin ada, tetapi bukan matahari yang selama ini kau kenal. Ia adalah Plt matahari dari Tuhan untuk makluk bumi selama sebelum terompet isrofil ditiup. Ia matahari yang lain yang akan menemani hari-harimu.

Atau

Bagaimana jika dalam tamasyamu ke kota lain kau tersesat dan tiba-tiba kau tidak tahu cara pulang dan kau merasa sangat terasing. Kau melihat orang dengan kulit warna-warni dominan warna hijau. Mereka tidak pernah makan dan minum, bisa terbang dan berubah bentuk dan tak ada uang. Sementara di tempat itu tak ada malam. Setiap saat hanya ada siang dan kau tak pernah bisa tidur sementara kau lapar dan lelah. Di tempat asing itu hanya ada kegembiraan. Kau tak akan pernah menjumapai kesedihan atau perjuangan. Orang-orangnya berpesta sepanjang hidupnya. Di kota itu usia orang-orang tidak lebih dari 60 hari. 70 hari adalah usia yang panjang sekali. Bahkan sudah membosankan. Selamanya kau terjebak dalam pesta itu. Selamanya.

Atau

Bagaimana jika kau tak pernah datang ke kota ini. Surabaya kita yang tercinta. Katakanlah kau melanjutkan belajarmu di kota asalmu saja. Mungkin aku tak akan pernah bertemu denganmu. Tak mengenalmu. Takkan ada pengabdian. Takkan ada ceritaku ini. Ya, aku tahu ini ceritaku bukan ceritamu. Selanjutnya pagi ini aku tak mungkin menulis ini atau mungkin menulis sesuatu yang lain yang pasti bukan tentangmu.

Tetapi

Seandainya Tuhan memberiku kesempatan untuk memilih aku lebih berharap kau tetap belajar di kotamu saja. Minimal kau akan menyelamatkan waktu dan energi yang selama ini habis dan tak perlu kau bagikan. Kau tetap menjadi dirimu yang di puja banyak lelaki. Bisa melakukan sesuatu yang kau suka dan tanpa harus terbebani dengan tuntutan dari orang lain. Kau bebas.

Walaupun

Aku tahu tanpa datangmu akan tak akan pernah tahu apa itu –aku ragu menulis itu sebagai cinta tetapi lebih mudahnya aku sebut saja itu cinta. Walaupun definisiku tentang hal itu berbeda dari kebanyakan orang-orang lain. Tanpamu aku tak akan tahu dan belajar bahwa ada banyak rasa dalam cinta. Meski secara garis besar hanya ada dua : bahagia dan duka. Bahkan dengan hal sepele kau sangat lebih dari cukup untuk menghadirkan rasa bahagia atau duka itu dalam diriku.

Karena

Hidup adalah garis waktu maka aku pun tak pernah berharap pada sesuatu yang sudah berlalu. Menurutku itu hal yang percuma. Dan sedikit senyum akan memudahkanmu untuk memaafkan diri di hari kemarin. Memudahkan melihat esok dan esok lagi. Tentang kau dan esok aku lebih memilih tidak memikirkannya bahkan terkesan melupakannya –dengan berat pikir.

Hanya

Cara seperti itu yang memudahkanku melalui hari-hari yang selalu kau rampok. Walaupun literally kau tak pernah menghubungiku (ahaha) kau selalu hadir dalam wujud nyata di bayang-bayang.

Kembali

Ke surabaya tempat bertemu, ada banyak cerita selain dirimu. Kalau silampukau punya Dosa, Kota dan Kenangan aku rasa itu mewakili ingatanku akan Surabaya. Bagiku surabaya produsen kenangan terbanyak yang padanya ada kepingan puzzle dirimu yang tersenyum, cuek, judes dan marah. Surabaya juga bagian perjuangan usaha diriku untuk menjadi lebih manusiawi. Di surabaya aku merasakan hadirnya sisi-sisi diriku yang belum kuketahui dan menemukan sebagian lain yang lama hilang sejak aku lulus sekolah dasar. Lebih dari itu surabaya mengenalkanku pada usaha. Pada kesabaran. Pada kesendirian. Pada kehilangan. Pada senyuman. Pada politik. Pada sahabat. Pada Cinta. Pada separuh dari pandangan-pandanganku. Padamu

Sementara

Surabaya adalah cerita. Kau mungkin hadir tak lebih untuk sekedar menyapa. Tapi toh rezeki, mati, jodoh adalah ketentuan Gusti. Pantaskah seorang hamba menolak ketentuan Gusti. Kalaupun berani itu mungkin penolakan halus yang hadir dalam doaku untuk bersamamu. Tetapi sekali lagi itu menjadi wewenang Gusti. Kewajiban kita adalah menerima dengan iklas. Sebaik-baiknya manusia adalah kita yang memahami kewajibannya sebagai manusia.

Kalau

Suatu nanti ada saat bersama aku berharap bahwa tujuanmu sudah bukan untuk sekedar memuaskan waktu bersama. Karena aku berpikir kebersamaan itu hanya tentang moment sementara apakah hidup hanya untuk kenikmatan. Paling lama akan dinikmati selama 60 tahun. Jauh lebih indah jika ada legacy yang ditinggalkan setelah berpulang. Hal itu diusahakan selama hidup bukan dengan sikap santai dan selfish.

Bagiku

Selain tulips yang mahal dan aku tak mampu membelinya, krisan adalah bunga yang menarik. Aku menyukai bunga.

Seandainya
…….

 

Surabaya, September 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s