ruang cerita, ruang semua

Manusia, Surabaya, dan yang terputus di Surabaya.

Ini tentang sesuatu yang diawali dari berbagai tempat dan terputus di Surabaya. Benang-benang yang disarikan dari waktu ke waktu nener ke banyak orang. Segala yang berakir di Surabaya.

*

Jalan setapak yang masih sama. Keras dan banyak pecahan-pecahan besar dan dalam akibat musim kemarau yang panjang. Kalau tak hati-hati, bisa saja kaki terpelosok ke pecahan grogalan. Kakiku yang kecil lincah menghindari pecahan grogalan dan terus melangkah di sore itu. Kadang aku berlari agar tak telat ngaji akibat dari terlalu lama bermain blentik di jalanan berbatu yang sekarang banyak ditumbuhi klorak-klorak.

Jalan pematang sawah yang masih sama. Setiap sore dan petang ia selalu dilewati oleh “gerombolanku” berangkat-pulang ngaji. Rumputnya yang hijau muda pelan-pelan berubah sampai coklat tua masih tetap ada. Semi di akhir november dan hilang di akhir agustus. Walaupun ada juga yang bertahan sepanjang tahun. Ia tak lekang oleh kerinnya kemarau dan derasnya hujan.

Jalan di samping sungai yang masih sama. Kodok dan belalang masih berebut tempat di padi-padi yang hijau. Walaupun sebenarnya mereka punya tempat masing-masing. Kodok mendiami akar padi dan belalang lebih sering di bagian atasnya. Toh mereka masih sering berebut tempat. Bertarung untuk petak padi yang sama.

Jalan berlumpur yang masih sama. Selalu ada popokan-popokan baru di sepanjang jalan setapak itu. Pak tani giat. Ia dan tetangganya bergotong royong mengolah sawah yang subur. Menanti hujan dan bertanam. Pak tani masih sama. Ia selalu menunggu musim yang berganti dengan kesabaran seorang manusia. Manusia yang merdeka.

Jembatan bambu yang masih sama. Ia membantu dengan batang hijaunya. Walaupun kokohnya masih tertandingi ia bertahan dari beban-beban manusia yang melewatinya. Ia bahkan tegar melawan banjir besar dan masih saja tersenyum padaku seusai banjir. Ia bersama dengan untaian rumput selalu saja berwarna hijau.

Pohon ploso yang masih sama. Ia berdiri di tebing kecil di antara jalan setapak yang kulalui. Kadang-kadang ia menhujaniku dengan bunga-bunga warna orangenya. Ia juga berbaik hati memberikan tubuhnya sebagai rumah bagi burung derkuku,cendet dan gentilang. Seingatku, sejak aku menyapanya tiap sore hari ia sudah sebesar itu. Ia mungkin lebih dulu hadir di dunia ini dari pada aku.

Jalanan yang masih sama. Ia masih sama seperti pertama kali aku melangkahkan kaki di atasnya. Liku-likunya, turunan dan naiknya, sudut batasnya dengan petak sawah yang lain, licinnya akibat hujan, semut-semut yang bersarang di tanahnya. Ia sama. Bahkan setelah hujan dan panas berganti ia masih setia menjadi bagian jadi perjalanan hidupku.

*

Bagian yang hampir abadi. Ia ada dan sama. Tak berubah.

Manusia, satu-satunya yang berubah dan merubah dunia ini. Rupanya selalu berwarna dan berganti. Nyatanya, manusialah yang kehendaknya berkuasa atas bumi ini. Kehendaknya berlaku disetiap jengkal tanah dibumi ini. Tak ada satupun desa dan kota, atau dimanapun ia berada yang tak berubah karenanya.

Ia menjadi bagian tetap dari kodrat atas bumi. Dan ia selalu sama tak pandang tempat dan waktunya. Apa yang terjadi esok hanya perulangan hari ini dan kemarin.

Sama.

Dan di Surabaya pun sama. Manusia memutus tali-tali yang aku rajut satu demi satu. Ia menghapus apa yang telah aku tulis. Memadamkan yang aku kobarkan. Mendekatkan yang aku jauhi. Memberikan yang paling aku hindari. Manusia, Surabaya dan yang terputus di surabaya.

 

(Malang, 24 Desember 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s