ruang cerita, ruang gagas, ruang semua

Kenapa Kita Malas Mendengar Khutbah

Sebelum mulai mensliliti tulisan ini lebih apik anda ingat kembali momen ketika anda duduk resah dan gelisah (mungkin juga tertidur) saat mendengar khatib menyampaikan pesan khutbah. Bagi yang pernah merasa mengalaminya anda boleh lanjut membaca sampai pada paragraf akhir atau sampai pada yang anda inginkan. Mari kita anggap pengalaman semacam itu sebagai syarat sah membaca tulisan ini. Untuk yang tidak memenuhi syarat sah tersebut saya anjurkan untuk segera cepat selesaikan kalimat ini dan pergi untuk hal yang lebih bermanfaat. Demi kebaikan bersama.

Pagi ini saya memulai hari dengan skimming beberapa pesan whatsapp grup dan beberapa chat pribadi yang belum sempat terbaca. Melanjutkannya dengan bergegas mandi dan berangkat mengikuti Solat Idul Adha di jalan depan kos. Saat sampai suasana masih sepi, hanya terlihat segelintir panitia yang masih sibuk dengan peralatan sound system dan microphone yang beberapa kali ngadat ketika dicoba. Saya ambil duduk paling kiri di barisan tengah. Memejamkan mata sambil melihat pohon dan burung di depan yang seolah sedang mengemakan Takbir sangat khusyuk.

Saat Khatib memulai nasehatnya inilah pikiran saya juga ikutan berkeliaran dan menjamah beragam hal. Termasuk di dalamnya ada tanya-tanya yang tidak penting. Dalam lamunan ini, saya berusaha (dengan sangat sungguh-sunguh sekali) menelusuri endapan perasaan untuk menjawab kegalauan saya. Soal rasa malas, bosan serta gelisah (lengkapkan?) saat mendengar khutbah. Temuannya saya yakin sama sekali tak mengejutkan anda.

Pertama. dari sekian pengalaman saya (tentu sedikit). Banyak khatib menyampaikan khutbah dengan bahasa yang luar biasa formal. Dengan kata yang tertata rapi dan kaku (seperti pidato) dan saking kakunya kalau anda mau sangat mudah bagi anda untuk menebak kata-perkatanya sampai akhir kalimat. Di saat pemerintahan mulai suka dengan bahasa selow khatib masjid-masjid memulai tren yang bertolak belakang. Kebanyakan masjid di kota sih. Kalau khatib masjid dusun saya tak banyak berubah sejak saya kecil. Bahasanya ya bahasa orang desa sehari-hari. Selow abiz.

Kedua. tentang tema khutbah yang semakin monoton itu-itu saja dan dangkal dalam mengkontekstualisasikan ajaran pada kondisi sosial masyarakat saat ini. Saya semakin jamak mendengar khatib menekankan pentingnya ritus dalam beragama. Sembari mengancam dengan dosa bagi yang meninggalkannya. Sebaliknya, hampir tak pernah saya mendengar khatib berpesan tentang pentingnya pemberantasan korupsi. Atau pentingnya sikap tertib di jalan. Atau wajibnya seoarang muslim membantu sesama yang sedang kesulitan. Tafsir atas agama menjadi hanya sebatas urusan dengan Tuhan. Soal ambisi pribadi untuk mendapat pahala dan masuk surga. Meninggalkan sisi minannas.

Di tengah kyusuknya melamun saya mendengar ramai suara kaki dan menoleh. Terlihat banyak yang beranjak meninggalkan rakaat ketiga dan keempat solat Idul Adha. Belum lima menit sejak Khatib naik mimbar.

Sayapun menunduk dan melanjutkan lamunan.

Ketiga. ini soal preferensi pribadi saya yang lebih menyukai pititur dengan pengalaman dan kisah-kisah orang saleh yang penuh hikmah. Lebih suka mendengarkan dari yang tua dari pada yang muda. Khatib muda khutbahnya sering malah membuat KZL. Terlebih, saat mengimami solat. Sudah bacaannya lama, lagunya dibuat-buat lebih mirip mau menyanyi daripada melafalkan Ayat Suci. Kalau sudah begitu, badan gerak solat hati mengerutu.

Dan karena semangat muda yang membara bahasa yang sering saya dengar dari khutbahnya adalah bahasa penghakiman. Salah dan benar. Mengikuti nalar logikanya beragama tidak lebih sekedar hitung-hitungan dagang dengan Tuhan. Dengan Pahala kita disuruh membeli Surga.

Semangat kebangkitan kembali beragama memang sedang tren. Dibarengi dengan pemurnian ajaran agama. Agama ya agama. Budaya ya bukan agama. Sesuatu yang berbeda. Semangat yang meletup-meletup ini kurang diimbangi dengan pemahaman agama yang tuntas. Hanya sebatas kajian mingguan dan temporer yang disyiarkan oleh tivi yang gemar mengundang penceramah muda untuk membahas suatu tema tertentu dengan bahan yang sudah disiapkan oleh pembuat naskah sebelumnya. Tinggal membaca skrip dan kemudian menyampaikan ajaran baik keseluruh negeri. Malamnya ceramah di tivi esoknya terbitlah Ustad muda kondang.

Fenomena yang banyak disyukuri sebagai kebangkitan Islam. Tapi saya ratapi sebagai kemunduran yang luar biasa dalam kehidupan beragama. Bukan lagi soal tua muda. Lebih pada seorang yang tepat untuk tugas yang tepat. Bukan tentang media belajar. Tetapi tentang apa yang dipelajari. Bukan siapa. Tetapi apa dan bagaimana.

Itu runutan kenapa kita semakin banyak yang memantau twitter ketika Khutbah berlangsung.

Atau,

Barangkali beberapa ungkapan di atas tak lebih dari alibi kerasnya hati saya sebab dosa dan kemaksiatan yang terus-menerus saya lakukan. Alasan untuk meneruskan tidur daripada bergegas berangkat Jum’atan.

Sekali lagi, mari kita anggap tulisan ini tak lebih dari kertas tisu yang anda buang di tempat sampah setiap hari tanpa anda perlu mengingat merk dan jenisnya.

Saya tersadar. Ternyata Khatib sudah selesai dan saya duduk sendiri melamun di tengah karpet yang mulai dirapikan.

Selamat berkurban.

 

pada Jakarta, 1 September 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s